BANDUNG, JEJAKPOS.ORG — Aktivitas operasional sejumlah perusahaan pengolahan kapur di kawasan wisata Situ Ciburuy, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, kini tengah menuai sorotan tajam. Masyarakat yang bermukim di sekitar area pabrik mulai menyuarakan keluhan lantaran dampak lingkungan yang ditimbulkan dinilai kian mengkhawatirkan.
Warga mengeluhkan paparan debu pekat hasil proses produksi kapur yang beterbangan ke pemukiman, serta suara bising dari mesin-mesin pabrik yang beroperasi. Kondisi ini dinilai tidak hanya mengganggu kenyamanan dan ketenangan warga sehari-hari, tetapi juga mulai mengancam kesehatan saluran pernapasan masyarakat setempat, terutama bagi mereka yang tinggal dalam radius terdekat dari area industri.
Menanggapi gejolak di masyarakat, Pemerintah Desa Ciburuy angkat bicara dan membenarkan adanya polemik tersebut. Pihak desa mengakui bahwa dalam beberapa waktu terakhir, mereka menerima banyak laporan dan aduan resmi dari warga yang merasa dirugikan oleh aktivitas industri kapur tersebut.
Sekretaris Desa Ciburuy, Yadi Hendradi, mengungkapkan bahwa volume keluhan yang masuk sebelumnya terbilang cukup tinggi. Menurutnya, respons paling keras datang dari komunitas warga yang rumahnya berbatasan langsung atau berada paling dekat dengan pusat kegiatan produksi perusahaan kapur.
Guna mencegah konflik yang lebih luas, Pemerintah Desa Ciburuy mengklaim tidak tinggal diam. Yadi menegaskan bahwa berbagai upaya mediasi telah ditempuh oleh pihak desa untuk menjembatani pertemuan antara perwakilan masyarakat dan manajemen perusahaan. Langkah persuasif ini terus diupayakan demi mencari titik temu dan solusi bersama yang saling menguntungkan, sehingga roda ekonomi perusahaan tetap berjalan tanpa harus mengorbankan kesehatan serta kenyamanan warga sekitar.










