Kilas Balik di Gorontalo, Presiden Prabowo Cerita Momen Tegas Tolak Impor Beras Saat Musim Panen

banner 468x60

GORONTALO, JEJAKPOS.ORG — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, membagikan sebuah kisah kilas balik yang sarat akan keberpihakan terhadap nasib para petani lokal. Di hadapan ribuan pasang mata, Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya pernah berada di posisi yang secara lantang menolak keras kebijakan pemerintah untuk melakukan impor beras dari luar negeri.

Momen bersejarah tersebut diceritakan kembali oleh Presiden Prabowo saat memberikan sambutan dalam acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII yang digelar di Provinsi Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Prabowo mengisahkan bahwa penolakan itu ia layangkan jauh sebelum dirinya menduduki kursi kepresidenan, tepatnya saat ia masih aktif mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Pertemuan Sengit dengan Aburizal Bakrie demi Nasib Petani

Dalam narasinya, Presiden Prabowo menguak garis waktu sekitar tahun 2004 hingga 2005 silam. Kala itu, ia secara khusus menemui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) yang saat itu dijabat oleh pengusaha nasional Aburizal Bakrie, atau yang akrab disapa Ical.

Dalam pertemuan tersebut, atmosfer sempat memanas ketika Prabowo mengetahui adanya rencana jajaran kabinet pemerintahan kala itu yang berniat mendatangkan beras impor dalam skala besar.

“Waktu itu sekitar tahun 2004 atau 2005, saya datang dan bertemu langsung dengan Pak Aburizal Bakrie selaku Menko Perekonomian. Saya sampaikan protes dan penolakan yang sangat keras dari HKTI terhadap rencana pemerintah yang ingin mengimpor beras secara besar-besaran,” ujar Presiden Prabowo di atas podium, Rabu (24/6/2026).

Dampak Buruk Impor di Tengah Musim Panen

Alasan utama di balik kemarahan dan ketegasan Prabowo waktu itu didasari oleh momentum yang sangat tidak tepat. Rencana kebijakan impor tersebut digulirkan bersamaan dengan datangnya musim panen raya di berbagai daerah sentra pertanian di dalam negeri.

Menurut pandangan subjektifnya, memaksakan beras asing masuk ke pasar domestik saat stok nasional sedang melimpah adalah sebuah kekeliruan fatal yang dapat mencekik perekonomian kaum tani.

Dampak buruk yang disoroti Prabowo jika impor dipaksakan saat panen raya:

  • Anjloknya Harga Jual: Masuknya beras impor dalam jumlah masif akan membuat pasar mengalami surplus berlebih (oversupply), yang berujung pada merosotnya harga gabah kering panen dan beras di tingkat petani.

  • Kerugian Finansial Massal: Para petani yang telah mengeluarkan modal besar untuk biaya tanam dan pupuk terancam gagal balik modal akibat harga komoditas yang jatuh bebas.

  • Ketergantungan Pangan: Kebijakan instan impor dinilai dapat melemahkan semangat swasembada pangan nasional jangka panjang.

“Kalau dipaksakan impor masuk sementara petani kita sendiri sedang memanen hasilnya, itu sama saja membuat mereka merugi total. Beras akan berlimpah di pasar, harganya jatuh, dan yang hancur adalah kesejahteraan petani kita di Tanah Air. Prinsip itu yang saya pegang teguh sejak dulu,” tegas Presiden Prabowo disambut riuh tepuk tangan para peserta PENAS XVII.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *