JAKARTA, JEJAKPOS.ORG — Praktisi dan pengamat ekonomi digital, Yudo Sadewa, memberikan peringatan keras kepada para investor aset kripto di Indonesia terkait keamanan aset mereka di bursa terpusat (Centralized Exchange atau CEX). Pria yang dikenal sebagai putra dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Purbaya Yudhi Sadewa ini memproyeksikan bayang-bayang kelam pasar kripto global bisa saja terjadi di tanah air.
Yudo memprediksi bahwa dalam beberapa tahun ke depan, tidak menutup kemungkinan akan ada bursa kripto lokal di Indonesia yang mengalami kebangkrutan masif. Ia menyamakan potensi risiko tersebut dengan skandal kehancuran FTX, salah satu raksasa bursa kripto dunia yang tumbang akibat krisis likuiditas dan tata kelola yang buruk.
Potensi Penyalahgunaan Dana Nasabah
Kekhawatiran Yudo bukan tanpa alasan. Menurutnya, risiko terbesar dari bursa terpusat terletak pada celah moral (moral hazard) dari pemilik atau pengelola CEX itu sendiri. Ada potensi besar terjadinya penyalahgunaan dana nasabah (user funds) demi kepentingan dan gaya hidup pribadi sang pemilik.
“Potensi penyalahgunaan dana nasabah oleh pemilik CEX untuk kepentingan pribadi, seperti pembelian barang mewah dan properti, menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai,” tutur Yudo dalam pernyataannya.
Imbauan Pindah ke Cold Wallet
Menyikapi tingginya risiko keamanan tersebut, Yudo sangat menyarankan para investor untuk mengubah perilaku menyimpan aset digital mereka. Ia mengimbau agar masyarakat tidak lagi menaruh aset kripto di dalam exchange maupun broker dalam jangka waktu yang lama.
Sebagai langkah preventif, ia merekomendasikan investor untuk segera memindahkan penempatan aset mereka ke media penyimpanan yang jauh lebih aman, yaitu cold wallet (dompet fisik luar jaringan).
-
Pesan Utama: Jangan memberikan kepercayaan penuh (blind trust) kepada pihak ketiga atau platform manapun.
-
Solusi: Ambil kendali penuh (self-custody) atas keamanan kunci privat (private key) aset pribadi guna menghindari kerugian finansial yang masif di masa depan.










